Astronomy in my life

Masih satu seri dgn 2 blog terdahulu. Ini yg termasuk paling ngetop & kalo mbaca testiku ini termasuk yg paling mendominasi. Boleh dikata kalo kenal Adi pasti ngebayanginnya bintang2. Itulah dia, si Adi astronomi.

Astronomi ini bagiku adalah hobi, dan ini adalah termasuk hobi tertua yg masih bertahan hingga kini. Bandingkan dgn menggambar yg kemudian bergeser menjadi memfoto & musik yg baru mulai waktu masa ABG.

Well, perkenalanku dengan astronomi mungkin bisa digali hingga antara TK & SD kelas 1. Waktu itu kakakku punya buku tentang Bumi dan Alam Semesta. Yg sangat kuingat ketika pagi2 Bapakku menunjukkan (yg ndak jelas arahnya ke mana) Planet Venus & Merkurius. Sekalipun demikian hingga kini sejujurnya aku belum pernah melihat yg namanya Planet Merkurius saking dekatnya dia dengan Matahari.

Ketika pagi buta pada hari kepindahan keluarga kami ke Dili, Timor Timur, langit cukup cerah dan kami pun sempat memperbincangkan tentang kedua planet tadi. Ternyata ketika di kota Dili, kota ibukota ibukota provinsi ke-27 yg kini menjadi ibukota negara, keadaannya sangat kondusif untuk melihat bintang malam hari. Boleh dikata malam harinya hampir tanpa polusi cahaya karena Dili adalah kota kecil, dan hampir tanpa awan karena iklim Timor Timur yg gersang.

Petualangan perastronomian di Timor Timur cukup berkesan dalam di hidupku. Ketika kelas 3 aku pertama kali diajarkan oleh Bapakku membuat teleskop sederhana dengan menggunakan lup, lensa, & kardus bekas. Ketika itu pula aku ingat untuk pertama kalinya mengenali rasi2 bintang Crux, Orion, Scorpius, & Ursa Major. Ketika hampir selesai duduk di bangku SD untuk pertama kalinya aku melihat secara benar2 jelas yg namanya Bima Sakti dari daerah bernama Viqueque. Aku juga ingat pertama kalinya menyaksikan gerhana Bulan total yg membuat heboh isi kota Dili yg masih percaya takhayul.

Awal memasuki SMP aku kembali pindah ke kota Jakarta dan segera kecewa dengan kenyataan langit yg tidak secerah kota Dili plus banyak awan. Kekecewaan ini sedikit terobati ketika kelas 2 SMP aku dihadiahi teleskop Tasco F=700mm yg masih terpakai hingga kini. Teleskop inilah yg menuntunku untuk melihat langit lebih dalam. Awalnya hanya kawah Bulan yg berhasil kulihat, kemudian akhirnya berhasil mengenali ternyata bintang luar biasa terang tanpa kedip itu adalah Planet Jupiter yg ternyata punya 4 satelit. Setelahnya aku berhasil menemukan Planet Saturnus yg ternyata kelihatan cincinnya, tak lupa Planet Venus yg ternyata punya fase seperti Bulan dan justru dia menjadi terang ketika fase sabitnya. Nah, yg cukup membuatku kaget adalah satu bintang yg katanya terdekat dari Tata Surya kita, Alfa Centauri (atau Rigil Kentaurus) yg ternyata kalau dilihat dari teleskop ada 2: kemerahan & kehijauan warnanya. Sungguh pengalaman2 yg mengagumkan bagiku ketika itu.

Berbagai penemuan ini berlangsung hingga kelas 2 SMU. Kelas 2 SMU ini boleh dikata termasuk awal zaman keemasan astronomiku. Ketika terjadi gerhana Matahari sebagian 22 Agustus 1998 aku sempat membuat heboh sekolahku apalagi banyak yg ikut menyaksikan dari kameraku yg berlensa tele dan sudah difilter itu.

Akhirnya awal Maret 1999 (sekitar tanggal 3-5) aku masuk ke dalam keanggotaan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) yg waktu itu diketuai oleh Bob P. Sumitro. Entah karena keaktifanku atau kurangnya orang aku bisa terpilih jadi pengurus seksi ceramah. HAAJ ini juga bagiku merupakan organisasi yg mendorongku untuk mulai berani bicara di depan orang banyak.

Keaktifanku di HAAJ berakhir sekitar 2003. Setelahnya hanya sekadarnya di HAAJ dan memang minat terhadap astronomi agak menurun karena semakin sibuknya jadwal. Minat astronomi ini meningkat kembali sekitar pertengahan 2005 karena suatu keterpaksaan, yaitu ‘dipaksa’ mengajar ekskul astronomi di St. Laurensia (karena mereka tidak bisa menemukan pelatih lain). Tambahan dorongan adalah dari pihak Centaurus dan teman2 Himastron ITB.

Aku paling tertarik pada berbagai filosofi astronomi & perhitungannya. Astronomi juga menarik karena apa yg kita bahas termasuk mencakup asal muasal alam semesta ini yg pada akhirnya akan membuat kita terpaksa menyimpulkan pastilah ada awal dari segala awal itu yg tak lain adalah Tuhan. Boleh dikata astronomi adalah salah satu bidang yg membantu menjagaku untuk tidak menjadi seorang yg atheis atau pun seorang yg (sok) religius. Termasuk di antaranya adalah satu kesimpulan bahwa di atas agama ada Tuhan dan karenanya kita tak boleh menuhankan agama (fanatik terhadap satu agama).

Salam Astronomi!

One Response to “Astronomy in my life”

  1. Rei Says:

    Kalo liat bintang itu jadi wandering… kenapa bentuknya gak kayak yang di gambar2 itu ya…? (yg lancip2 gituh! orang emang suka kreatif ya??)

Leave a Reply