Launching Blog Astronomiku
Thursday, April 12th, 2007Silakan buka:
Silakan buka:
Lanjutan seri ‘in my life’. Kali ini soal komputer. Mungkin akhir2 ini pamorku di bidang yg satu ini agak menurun drastis dibanding pada masa2 dahulu. Padahal dahulu sempat cukup jaya termasuk dalam hal membuat virus tanpa anti virus he he he…
Perkenalanku dengan komputer bisa dilacak hingga masa akhir TK. Waktu itu sekitar tahun 1987-1988, di mana untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan sebuah barang canggih yg punya layar monitor dengan sebuah kotak besar yg bisa dimasuki 2 disket tipis ukuran 5 1/4 inci. Itulah komputer rumah pertamaku, dengan spesifikasi CGA (Computer Graphic Adaptor) 4 warna, tanpa Hard Disk, dan prosesor XT. Kalau tidak salah kecepatannya hanya 4MHz dan biasa digunakan untuk bermain Digger dan Alley Cat. Sistem komputernya pun tak lebih dari PC DOS yg berupa selembar disket.
Ketika pertengahan umur SD, aku mulai berkenalan dengan generasi komputer yg agak lebih cepat, yaitu AT 286 dengan kemampuan grafis hingga 16 warna yg dinamai EGA (Enhanced Graphic Adaptor). Inilah masa awal adanya Hard Disk yg besarnya masih dalam hitungan Megabyte. Yg membuatku kurang nyaman ketika fasilitas turbo dinyalakan adalah betapa cepatnya sang Digger bergerak. Akibatnya apa boleh buat, berdatanganlah game2 komputer lain yg lebih canggih (alasannya ada aja yah). Ketika ini pula aku mulai berkenalan dengan berbagai virus antara lain Stoned dan Michaelangelo. MS DOS mulai berkuasa di sini, dan penggunaan WordStar, Lotus 1-2-3, Dr Halo, DBase, dll mulai marak. Prince of Persia pun menjadi salah satu game favorit kala itu.
Memasuki usia SMP, komputer rumahku berubah lagi. Kini telah tersedia VGA 256 warna, AT 386 dan Hard Disk lebih besar. Sistem operasi pun beralih dari MS DOS yg hanya bisa dijalankan dengan mengetikkan berbagai syntax yg kalo salah diomelin komputer dengan kata2 "bad command or file name", menjadi MS Windows 3.1 yg berwarna warni. Walaupun kemampuan VGA 256, tp di Windows hanya bisa kelihatan 16 warna. Agak berbeda dengan ketika bermain game yg bisa sampai 256 warna termasuk halnya Prince of Persia 2.
Masa SMP ini mungkin termasuk dalam zaman keemasan awal kemampuanku dalam program komputer. Aku untuk pertama kalinya belajar secara serius pemrograman QBASIC. Yg mana termasuk di antaranya adalah (sok) membuat virus yg bahkan bisa memformat Hard Disk! Akibat dari mulai belajar pemrograman ini pula aku mulai mengutak atik berbagai register dari game2 yg ada sehingga dengan demikian berhasil mengubah berbagai nama karakternya.
Sampai dengan SMP akhir, aku sudah mengenal kecepatan komputer AT 486 hingga Pentium I. Menggunakan laptop berkekuatan Pentium I ini pula untuk pertama kalinya aku berhasil mengakses internet secara dial up 14,4kbps. Ketika itu tahun 1996 dan masih sangat langka orang yg menggunakan internet. Upgrade desktop komputer pun terjadi dari AT 386 menuju kepada sebuah prosesor baru bernama AMD K5 yg katanya secepat Pentium I. Terpasang pula modem yg lebih cepat secepat 33,6kbps dan juga tak lupa adanya CD ROM juga sistem operasi yg semakin canggih: Windows 95. Rasanya peralihan dari Win 3.1 menuju Win 95 benar2 luar biasa ketika itu. Masa SMP ini juga ditandai dengan mulai beraninya aku mengutak atik jeroan kotak CPU.
Perkembangan komputer ternyata luar biasa cepatnya sehingga pertengahan SMU pun terpaksalah diupgrade kembali. Kali ini aku yg menulis spesifikasinya meski tidak detil. Hasilnya adalah komputer berprosesor AMD K6 yg setara Pentium II. Agak sayang pada masa SMU ini aku kurang mendapat pendidikan komputer.
Masuk ke usia kuliah awal, aku mulai mengejar ketertinggalan informasi dalam dunia komputer. Terjadilah suatu kejadian cukup mengenaskan terhadap AMD K6 tersayang yg menyebabkanku beralih kepada Intel Pentium II pada tahun 2000. Itulah perkembangan terakhir dari komputerku. Komputer yg sama inilah yg menuntunku menjadi salah satu mahasiswa terbaik di Teknik Mesin tahun 2001 dalam pemrograman sehingga seisi kelas akan berkonsultasi denganku kalau ada masalah dengan komputer. Akibatnya pula pada tahun berikutnya, 2002 aku pun menjadi asisten untuk praktikum Dasar Komputer. Komputer yg sama pula untuk pertama kali merasakan kedahsyatan modem dial-up 56 kbps.
Sayangnya setelahnya aku kembali tertinggal dalam informasi perkembangan komputer. Hal ini terjadi hingga tahun 2005 di mana akhirnya aku membuat lompatan sangat besar, dari Intel Pentium II langsung loncat ke AMD Sempron 2200+ yg setara Intel Pentium 4. Berdasarkan konsultasi dengan seorang teman, untuk kali ini seluruh jeroan komputer & luar2nya benar2 mengikuti perencanaanku. Komputer inilah yg pada akhirnya merasakan kedahsyatan ADSL dari Telkom Speedy yg katanya sampai 384 kbps.
Melihat kembali ke belakang, masa2 kejayaanku untuk komputer terjadi pada masa SMP dan awal kuliah di Teknik Mesin. Itulah sebabnya tidak terlalu banyak yg kenal aku dengan hobiku yg satu ini.
Masih satu seri dgn 2 blog terdahulu. Ini yg termasuk paling ngetop & kalo mbaca testiku ini termasuk yg paling mendominasi. Boleh dikata kalo kenal Adi pasti ngebayanginnya bintang2. Itulah dia, si Adi astronomi.
Astronomi ini bagiku adalah hobi, dan ini adalah termasuk hobi tertua yg masih bertahan hingga kini. Bandingkan dgn menggambar yg kemudian bergeser menjadi memfoto & musik yg baru mulai waktu masa ABG.
Well, perkenalanku dengan astronomi mungkin bisa digali hingga antara TK & SD kelas 1. Waktu itu kakakku punya buku tentang Bumi dan Alam Semesta. Yg sangat kuingat ketika pagi2 Bapakku menunjukkan (yg ndak jelas arahnya ke mana) Planet Venus & Merkurius. Sekalipun demikian hingga kini sejujurnya aku belum pernah melihat yg namanya Planet Merkurius saking dekatnya dia dengan Matahari.
Ketika pagi buta pada hari kepindahan keluarga kami ke Dili, Timor Timur, langit cukup cerah dan kami pun sempat memperbincangkan tentang kedua planet tadi. Ternyata ketika di kota Dili, kota ibukota ibukota provinsi ke-27 yg kini menjadi ibukota negara, keadaannya sangat kondusif untuk melihat bintang malam hari. Boleh dikata malam harinya hampir tanpa polusi cahaya karena Dili adalah kota kecil, dan hampir tanpa awan karena iklim Timor Timur yg gersang.
Petualangan perastronomian di Timor Timur cukup berkesan dalam di hidupku. Ketika kelas 3 aku pertama kali diajarkan oleh Bapakku membuat teleskop sederhana dengan menggunakan lup, lensa, & kardus bekas. Ketika itu pula aku ingat untuk pertama kalinya mengenali rasi2 bintang Crux, Orion, Scorpius, & Ursa Major. Ketika hampir selesai duduk di bangku SD untuk pertama kalinya aku melihat secara benar2 jelas yg namanya Bima Sakti dari daerah bernama Viqueque. Aku juga ingat pertama kalinya menyaksikan gerhana Bulan total yg membuat heboh isi kota Dili yg masih percaya takhayul.
Awal memasuki SMP aku kembali pindah ke kota Jakarta dan segera kecewa dengan kenyataan langit yg tidak secerah kota Dili plus banyak awan. Kekecewaan ini sedikit terobati ketika kelas 2 SMP aku dihadiahi teleskop Tasco F=700mm yg masih terpakai hingga kini. Teleskop inilah yg menuntunku untuk melihat langit lebih dalam. Awalnya hanya kawah Bulan yg berhasil kulihat, kemudian akhirnya berhasil mengenali ternyata bintang luar biasa terang tanpa kedip itu adalah Planet Jupiter yg ternyata punya 4 satelit. Setelahnya aku berhasil menemukan Planet Saturnus yg ternyata kelihatan cincinnya, tak lupa Planet Venus yg ternyata punya fase seperti Bulan dan justru dia menjadi terang ketika fase sabitnya. Nah, yg cukup membuatku kaget adalah satu bintang yg katanya terdekat dari Tata Surya kita, Alfa Centauri (atau Rigil Kentaurus) yg ternyata kalau dilihat dari teleskop ada 2: kemerahan & kehijauan warnanya. Sungguh pengalaman2 yg mengagumkan bagiku ketika itu.
Berbagai penemuan ini berlangsung hingga kelas 2 SMU. Kelas 2 SMU ini boleh dikata termasuk awal zaman keemasan astronomiku. Ketika terjadi gerhana Matahari sebagian 22 Agustus 1998 aku sempat membuat heboh sekolahku apalagi banyak yg ikut menyaksikan dari kameraku yg berlensa tele dan sudah difilter itu.
Akhirnya awal Maret 1999 (sekitar tanggal 3-5) aku masuk ke dalam keanggotaan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) yg waktu itu diketuai oleh Bob P. Sumitro. Entah karena keaktifanku atau kurangnya orang aku bisa terpilih jadi pengurus seksi ceramah. HAAJ ini juga bagiku merupakan organisasi yg mendorongku untuk mulai berani bicara di depan orang banyak.
Keaktifanku di HAAJ berakhir sekitar 2003. Setelahnya hanya sekadarnya di HAAJ dan memang minat terhadap astronomi agak menurun karena semakin sibuknya jadwal. Minat astronomi ini meningkat kembali sekitar pertengahan 2005 karena suatu keterpaksaan, yaitu ‘dipaksa’ mengajar ekskul astronomi di St. Laurensia (karena mereka tidak bisa menemukan pelatih lain). Tambahan dorongan adalah dari pihak Centaurus dan teman2 Himastron ITB.
Aku paling tertarik pada berbagai filosofi astronomi & perhitungannya. Astronomi juga menarik karena apa yg kita bahas termasuk mencakup asal muasal alam semesta ini yg pada akhirnya akan membuat kita terpaksa menyimpulkan pastilah ada awal dari segala awal itu yg tak lain adalah Tuhan. Boleh dikata astronomi adalah salah satu bidang yg membantu menjagaku untuk tidak menjadi seorang yg atheis atau pun seorang yg (sok) religius. Termasuk di antaranya adalah satu kesimpulan bahwa di atas agama ada Tuhan dan karenanya kita tak boleh menuhankan agama (fanatik terhadap satu agama).
Salam Astronomi!