Pedagang Kaki Lima, nasibmu kini…
Tadi sore ada berita dan seperti biasanya pula saya tidak terlalu memperhatikan apa isi berita itu. Namun, setidakmemperhatikannya saya terhadap berita itu ada satu hal yg cukup menarik hati untuk mengikutinya, yaitu minimal ada 2 (dua) kali berita tentang penggusuran lapak Pedagang Kaki Lima (PKL). Lantas saya pun jadi ingat cukup sering ada berita serupa dan selalu dikatakan bahwa mereka digusur karena tidak tertib, tidak punya izin, mengganggu ketertiban, dll.
Nah, mungkin ada bagusnya kalau mereka digusur, antara lain memang kawasan itu jadi lebih tertib dibanding sebelumnya, pemandangan lebih lega, jalanan lebih lapang, dan hal-hal positif lainnya. Bahkan boleh dikata kita bisa bilang dengan PKL digusur, maka ketertiban pun akan dijunjung tinggi.
Sekarang coba kalau kita telaah lebih lanjut. Bagaimana perasaan mereka? Sakit hati tentu, tokh mereka berasal dari kalangan rakyat yg tidak punya pendidikan cukup tinggi. Bahkan bukan tidak mungkin karena rendahnya tingkat pendidikan itu mereka tidak tahu bahwa untuk berdagang itu perlu izin! Mereka yg tergusur itu sudah barang tentu akan langsung kehilangan sumber penghasilan karena apa yg mampu mereka perbuat hanyalah menjadi PKL.
Satu hal mungkin yg mendorong saya menulis blog ini adalah demikian, para PKL sekalipun berasal dari golongan rendah pendidikan tapi mereka itu bukanlah orang yg malas! Mereka adalah orang-orang produktif yg menurut saya punya harga diri. Jika dikaryakan secara tepat mereka bisa menyumbang kemajuan negara ini sungguh besar mengingat jumlah mereka yg sangat banyak itu. Permasalahan utama mereka hanyalah: PENGETAHUAN RENDAH! Mereka tidak tahu apa-apa, hanya bisa dagang, dan terdesak kebutuhan (yg mana menurut Abraham Maslow kebutuhan terdasar adalah makan dan minum!).
Kenapa tidak dipikirkan cara bagaimana mereka bisa belajar untuk lebih taat pada peraturan? Lebih terbuka tentang ide-ide bisnis yg ada sehingga mampu mengembangkan UKM (yg bukan tidak mungkin suatu hari bisa jadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia). Bagaimana mereka dapat mencari nafkah seperti saat menjadi PKL itu lebih penting dipikirkan daripada hanya mengusiri mereka begitu saja tanpa ada tindakan lebih lanjut (yg mana akan menimbulkan pengangguran terbuka lebih banyak).
Yah… semoga aja deh ada kebijaksanaan yg lebih bijaksana di negeri ini.
-salam hormat untuk para pedagang PKL-
December 9th, 2006 at 4:53 am
ya mungkin perlu sosialisasi dan informasi lebih lagi pada mereka mengenai hal-hal terkait.. kurang lebihnya mungkin “pemberdayaan” PKL gitu…