Dua Cerita

Cerita Pertama

Sudah beberapa hari ini Dansky kelimpungan. Pasalnya ia ingin membuat laporan tentang perjalanan karya wisatanya bersama teman-teman SD Lokari ke Candi Gunung Sewu. Beberapa hari sebelumnya Ia mengatakan kepada teman-temannya bahwa ia bisa membuat laporan namun hingga hari ini tidak satu pun tulisan di kertasnya. Ia senantiasa menolak bantuan teman-temannya hingga kini.

Ibunya lantas memarahinya dan mengatakan supaya Dansky meminta maaf kepada teman-temannya karena sok bisa padahal tidak.

Hari berikutnya pun Dansky meminta maaf dan dengan segera teman-temannya mengejeknya dan gurunya pun menasihatinya untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Akhirnya laporan tersebut selesai dan semua keadaan beres.

Cerita Kedua

di dunia parallel

Sudah beberapa hari ini Dansky kelimpungan. Pasalnya ia ingin membuat laporan tentang perjalanan karya wisatanya bersama teman-teman SD Lokari ke Candi Gunung Sewu. Beberapa hari sebelumnya Ia mengatakan kepada teman-temannya bahwa ia bisa membuat laporan namun hingga hari ini tidak satu pun tulisan di kertasnya. Ia senantiasa menolak bantuan teman-temannya hingga kini.

Ibunya lantas memarahinya dan mengatakan supaya Dansky meminta maaf kepada teman-temannya karena sok bisa padahal tidak.

Dansky kemudian putar otak bagaimana bisa menyelesaikan laporan tersebut. Segera ia teringat pada Paman Loban, teman ayahnya yang bekerja sebagai wartawan di surat kabar Kompis.

Paman Loban pun membantu Dansky dengan syarat Dansky mau serius mengerjakan laporan itu. Akhirnya laporan tersebut pun selesai.

Hari berikutnya Dansky menyerahkan laporan tersebut kepada teman-teman dan gurunya. Ia pun mendapat pujian yang luar biasa karena laporannya sangat memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang benar. Ia pun mengakui ia mendapat bantuan dari Paman Loban yang baik hati.

Beberapa bulan kemudian, Bu Yule, guru Bahasa Indonesia SD Lokari mengundang Paman Loban untuk mengajari anak-anak SD tersebut membuat laporan yang baik dan benar. Sejak itu pun SD Lokari senantiasa meminta bantuan Paman Loban dan semakin hari kemampuan berbahasa Indonesia anak-anak SD Lokari semakin baik.

Moral cerita pertama:

Jangan sok jagoan karena hal tersebut bisa merugikan orang lain.

Moral cerita kedua:

Jangan sok jagoan karena hal tersebut bisa merugikan orang lain, tapi kalau mau tetap nekad, segeralah minta bantuan kepada orang yang benar-benar jago. Siapa tahu justru hal tersebut memberikan berkat kepada orang lain.

SETIAP KEPUTUSAN MEMILIKI RESIKONYA TERSENDIRI

One Response to “Dua Cerita”

  1. Rei Says:

    Hoo… Kacau juga nih… Kalo udah bilang bisa harus tanggung jawab dounks! Harapan seluruh bangsa bergantung di tanganmu ‘nak! Kalo mengecewakan, ya ditimpukin lah dikaw! Tapi, hal2 kayak gini memang seringkali terjadi kok… Makanya yang suka ngelakuin hal2 kayak gini, silakan baca pesan moral di atas. Hehehe…

Leave a Reply