Tuhan & Kosmologi

Apakah Tuhan itu ada? Jawabnya: "who knows?". Kita hidup karena kita hidup dan kita hidup di suatu tempat bernama Bumi. Bumi ada karena Bumi ada dan Bumi adalah salah satu planet di Tata Surya. Tata Surya Matahari adalah salah satu di antara tata surya lain di Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti adalah salah satu galaksi di Alam Semesta. Lalu, dari manakah alam semesta berasal?

Jauh dari zaman dahulu kita kenal berbagai mitologi penciptaan termasuk mitologi yg termuat dalam kitab suci ketiga agama samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam. Kisah penciptaan dalam Yahudi dimulai dengan firman Tuhan: "Jadilah terang", dan seterusnya hingga manusia pertama tercipta, Adam & Hawa.

Apa yg didapat para ilmuwan dari pasca abad pertengahan? Tampak-tampaknya alam semesta baik baik aja tuh, tidak bergerak dan statis. Satu hal yg agak kurang masuk akal ketika Isaac Newton merumuskan teori gravitasinya karena harusnya semua bintang dan planet akan saling mendekat satu sama lain. Albert Einstein pun sempat memasukkan sebuah konstanta dalam teori tentang alam semestanya, demi menjaga agar alam semesta bisa tetap statis.

Permasalahannya, kalau alam semesta statis, berarti alam semesta sudah ada dari dulunya. Satu kesimpulan yg cukup masuk akal dari pernyataan barusan adalah: tidak ada tempat bagi Tuhan untuk mencipta! Cukup masuk akal mengingat setiap hari kita lihat ada manusia baru lahir atau manusia lama mati, dan hal itu berlangsung terus menerus dalam suatu siklus yg tampaknya tidak akan berakhir atau pun tidak punya awal.

Lalu, di manakah yg namanya awal dan akhir? Kesimpulan sementara adalah: tidak ada. Jika dikatakan Tuhan adalah awal (yg menciptakan) dan akhir (yg mengkiamatkan), maka kesimpulan dari pernyataan barusan adalah bahwa Tuhan itu: tidak ada???

Nah, perkembangan baru muncul pada awal abad ke-20 ketika Edwin Hubble mencoba mengamati galaksi-galaksi yg jauh. Ia mengamati bahwa spektrumnya bergeser ke arah warna merah. Ini dikenal sebagai redshift. Maksudnya apa? Seperti mobil ambulans yg mendekati kita dgn nada frekuensi tinggi, ketika melewati kita suara sirenenya akan terdengar dgn nada frekuensi rendah. Begitu pula yg terjadi dgn cahaya. Semakin cepat ambulans tadi semakin rendah nada sirenenya.

Semakin jauh galaksinya, semakin besar redshiftnya. Hal ini berarti galaksi-galaksi tsb bergeser semakin cepat jika semakin jauh. Hal ini berarti satu hal: alam semesta mengembang! Dan Einstein pun mencopot konstanta yg tadi disebut di atas.

Kalau alam semesta mengembang, maka harusnya ada awalnya dong! Itulah dia saat yg disebut big bang. Awalnya berasal dari suatu singularitas dan bukan tidak mungkin akan berakhir dengan singularitas.

Kalau dihubungkan dengan Tuhan? Mungkin Tuhan itu ada di sana… dalam singularitas tak berhingga di awal dan di akhir, dan kalau dikatakan Tuhan selalu beserta mungkin karena memang Tuhan itu adalah alam semesta dan berarti kita pun termasuk dalam Tuhan.

One Response to “Tuhan & Kosmologi”

  1. Burhan Says:

    dr pertama di dunia ini cuman ada yg namanya “existance”. Lalu entah knp “existance” ini meledak membuat “emptiness” dmn sebagian kecil “existance” di dalamnya dan “existance” ini juga melingkupi “emptiness” ini. klo kita mikir kita semua dateng dr satu titik big bang yg bener2x terjadi di universe lalu evolve ke bentuk2x lain (planet, makhluk hidup,etc) berarti seharusnya kita dateng dr satu “existance” yg bener2x ada di universe ini. Pertanyaannya “existance” ini kamu namakan apa?

Leave a Reply