Archive for July, 2006

Mobil Diesel berbahan bakar minyak nabati

Sunday, July 30th, 2006

Hasil obrolan dengan kenalan baru, Melissa, Sabrina, dan Pak Herry di IIMS 2006 di JCC baru-baru ini.

Jadi begini singkat ceritanya aja dulu, mobil2 diesel yg selama ini wajib, kudu, harus diisi solar atau bahan bakar diesel lain, sekarang udah bisa diisi pake minyak jarak atau pun minyak sawit.

Hah? Gimana cerita? Berarti kalo gue abis ngegoreng pisang terus minyaknya dimasukin mobil bisa dong? Weits… sabar dulu mas dan mbak… Ceritanya ga segampang itu sih.

Jadi begini, minyak sawit dan jarak yg bisa kita sebut sebagai minyak nabati itu sebenarnya punya karakteristik yg mirip dengan bahan bakar diesel. Bahkan asal tau aja, Rudolf Diesel menjalankan mesin pertamanya dengan minyak kacang. Jangan heran kalau tanggal di mana si oom Diesel ini meluncurkan mesin yg menyandang nama besarnya itu dijadikan hari Biodiesel Internasional, yaitu 10 Agustus.

Oke, cukup ngelantur bentarnya, bisa panjang ceritanya kalo akhirnya segala tetek bengek sejarah mesin diesel dibahas di sini. Langsung aja deh bahas si minyak nabati ini…

Nah, si minyak nabati ini punya karakteristik angka setana (terjemahan dari cetane number, kalo kata Prof. Bambang Suryawan yg dosen Teknik Mesin UI, nulisnya harus tambahin ‘a’, biar ga jadi angka setan) yg mirip2 sama bahan bakar diesel yg selama ini kita kenal. Bahkan bukan hanya mirip, tp lebih tinggi.

Apa sih pengaruhnya si angka serem ini? Mirip kaya kalo kita denger angka oktan (ga usah tambahin ‘a’ juga ga pa pa :P ) di mesin bensin yg semakin tinggi makin bagus (makanya makin mahal). Angka setana ini membuat bahan bakar diesel itu ketika diinjeksikan (disemprot) ke dalam ruang bakar yg bertekanan tinggi lebih mudah bereaksi sama udara sehingga terbakar lebih sempurna. Bedakan sama angka oktan tinggi yg justru membuat ketika ditekan kuat semakin sulit terbakar! Angka setana tinggi ini juga membuat peristiwa ngelitik di mesin diesel jadi berkurang.

Nah, bagus dong kalo gitu kalo make minyak nabati? Langsung aja deh eike masukin abis ini aja gimana? Weitsss… dibilangin sabar dulu kenapa? Jadi begini, ternyata selidik punya selidik (kaya detektif :P), minyak nabati itu jauh lebih kental dibanding bahan bakar diesel. Coba aja kalo ga percaya di rumah ambil minyak goreng terus tuang aja, kental banget kan? Nah, kentalnya ini membuat sulit diinjeksikan ke ruang bakar, yg ada injektornya bisa jebol bo!

Gimana cara menurunkan kekentalan? Selama ini orang2 sudah selayaknya dan sepantasnya mereaksikannya dengan metanol menjadi suatu senyawa yg namanya metil ester atau lebih ngetop disebut biodiesel. Prosesnya sedikit rumit, simpelnya kalo mo beli kontak ke sini aja (numpang promosi dikit boleh kan :D). Cara lainnya adalah dengan memanaskannya terlebih dahulu sehingga lebih encer (kalo ga percaya coba aja panasin minyak goreng di rumah terus kalo udah panas digoyang, percaya deh pasti lebih encer). Kalo udah encer barulah itu minyak diinjeksikan ke ruang bakar.

Cara terakhir ini kayanya menarik, tinggal masukin aja yah? Weits… masih aja ga sabaran :P Masih ga segampang itu… Yg jelas asal tau aja, selama survey saya selama ini udah ada tiga institusi yg nyoba cara terakhir ini, Univ. Trisakti, BPPT, dan ITB (Pak Manurung). Syaratnya adalah: harus ada konverter dulu! Konverter ini berfungsi memanaskan minyak nabatinya dulu sebelum masuk ke ruang bakar. Nah, dengan kata lain, mobilnya mesti dimodifikasi dulu euy!

Bagi yg ga mau susah2 modif mobil, pake aja biodiesel selesai urusan. Nyampurnya jangan kebanyakan, 5-15% juga cukup. Mobil saya aja yg Isuzu Panther itu dicampur sekitar 5% aja udah bisa ngilangin asapnya koq.

high-risk travelling

Sunday, July 23rd, 2006

Hasil ngobrol2 dengan Renata Widyasasanti yg sempat khawatir akan hal ini…

Sebelum dibaca, harap perhatikan untuk tidak mencoba2 sendiri tanpa terlebih dahulu memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Sekadar sharing aja tentang high-risk travelling yg sempat aku lakukan seumur hidupku…

- naik kapal di tengah tsunami Laut Sawu, 1994. Kapal Pelni Dobonsolo yg kutumpangi dari Dili menuju Jakarta mau tak mau melewati Laut Sawu pada suatu hari Minggu. Saat itu langit cerah, namun gelombang laut sangat besar sehingga kapal pun bergoyang sangat dahsyat. Ternyata apa yg terjadi adalah kapal sedang melewati tsunami! Tapi aku waktu itu cukup menikmati ‘permainan’ laut ini meski sempat jadi mabok laut karenanya. Cukup banyak kejadian lucu akibat tsunami ini seperti halnya arah orang2 duduk di satu tempat pertemuan yg ke arah yg sama terus menerus.

- (nyaris) unsafety landing di Adisucipto, sekitar 1990an. Pesawat Merpati (atau Garuda yah? lupa tuh) yg kutumpangi bersama Bapakku dari Ngurah Rai - Bali menuju Adisucipto - Yogya. Kebetulan saat itu malam hari, jelaslah sulit untuk menjumpai pemandangan di luar. Kebetulan pula rasa2 turbulensi dahsyat mulai terasa, cangkir teh mulai berjalan2…. hingga berakhir saat pilot (nekad mungkin) mendaratkan pesawat dengan hanya (ingat, hanya…) sebelah roda duluan baru roda sebelahnya mendarat. Kalau tidak salah ingat akibatnya pesawat juga hampir keluar landasan (maklum anginnya gile bener…). Ada sih penumpang yg muntah dan tampak ketakutan tapi rasa2nya sih aku ndak kepikiran apa2 soal pesawat bakal crash landing sih (selalu percaya bahwa Tuhan melindungi koq :D )

- driving in fire, Baucau - Dili, Timor Timur, 1990an. Maksudnya, sopir kantor menyetir mobil ngebut 120 km / jam di jalan yg cukup kecil dengan satu tujuan: cepet2 ngelewatin hutan yg sedang terbakar he he he… Panasnya kerasa sih, asal jangan ikut kebakar ajah… :D Jadi kepikiran untung nggak melakukan hal yg sama di tengah kebakaran gambut di Kalimantan karena kalo di Kalimantan, persis di bawah jalan rayanya yg kebakar, bayangin!

- unsafety travelling di Lautem, Timor Timur, 1993. Ada satu jalan sepanjang puluhan (atau bahkan ratusan) kilometer di mana mobil kami hanyalah satu2nya mobil yg lewat situ. Secara kebetulan daerah tsb adalah markas Fretilin (yg mana waktu itu termasuk tidak mendukung pemerintahan RI di sana). Resiko yg mungkin terjadi adalah: disandera! Tapi untung tentara senantiasa memantau dan melindungi. Untung pula Bapakku baru ceritakan hal ini sekarang, karena yg kuingat dari perjalanan ini adalah kami sangat menikmati pemandangan yg luar biasa indahnya.

Gimana dengan gempa bumi? Itu sih biasa… di Timor Timur gempa buminya cukup sering jadi yah mungkin rasa untuk mengungsi baru muncul ketika ada barang yg jatuh dgn tingkat kepanikan seminimal mungkin :D

Sebenernya sih banyak lagi ya perjalanan beresiko tinggi, tapi sisanya kayanya ga sebanding sama yg di atas sih… Gimana yah… jujur kadang2 serem juga sih, tp kalo diinget2 kita jadi percaya bahwa Tuhan itu emang Maha melindungi koq :)

Perlu diingat pula ketika kita lakukan high-risk travelling sangat diharapkan untuk tetap tenang sepanik apa pun kondisi yg ada. Bayangkan kalo semua orang panik trus ga ada yg menenangkan, kaya apa kondisinya. Misal coba kebakaran dlm bus trus bisanya cuma teriak2, yah abis deh semuanya, padahal kan mestinya mecahin kaca supaya semua bisa keluar kan? Atau pas nyetir di depan kita ada ranting2 terbakar berjatuhan, kalo nggak tetep fokus sama jalanan yg kosong bisa2 ikutan kebakar mobil kita. Terakhir, tapi yg terpenting, jangan lupa doa mohon perlindungan pada Tuhan setiap kali mau melakukan perjalanan!

Jogja yg berkesan

Friday, July 21st, 2006

Menyambung blog yg sebelum ini. Kali ini bukan reportase tp lebih kepada kesanku tentang kota yg satu itu.

Terus terang kota ini membuatku sangat betah. Ada aura-aura kenyamanan di sana. Entah kenapa tiba-tiba nafsu makan meningkat cukup drastis. Kalau jalan kaki jauh rasanya koq enak-enak aja. Makanan murah di mana-mana.

Apa yg enak pula dibanding Jakarta adalah ketika ada tukang becak yg hampir nabrak karena aku jalan nggak liat-liat dulu. Yg ada tukang becaknya tersenyum, "monggo mas…". Sangat jauh berbeda di Jakarta ketika supir angkot melakukan hal yg sama maka bisa jadi binatang se-ragunan plus taman safari dan gembiraloka bisa keluar semua.

Begitu pula dgn cara orang bekerja yg sangat tulus, seolah-olah uang tiada berharga. Sangat jauh berbeda dengan Jakarta dgn aura persaingannya yg bahkan terkadang bisa kita jumpai di dalam tempat-tempat ibadat.

Makanannya pun enak-enak. Ada bakmi Kadin, bakso Ateng, dsb. Singkat cerita, Jogja memang sangat nyaman ditinggali meski sekarang sudah mulai banyak polutan pendatang dari luar yg bikin berbeda.

Sekilas reportase Jogja

Tuesday, July 18th, 2006

Praktis tidak terlalu banyak yang bisa diceritakan dari kunjungan terakhirku ke Jogja antara 9 - 17 Juli 2006 ini. Setiap hari antara 10 - 15 Juli senantiasa diisi oleh acara jalan kaki ke Puskat di Kotabaru dari Pringgokusuman tempat tinggalku pada sekitar jam 6 pagi lalu pulang sekitar jam 13, lalu kembali ke Kotabaru sekitar jam 15 dan kemudian pulang sekitar jam 19.

Selama hari-hari tersebutlah aku ‘bertempur’ di Pusat Musik Liturgi untuk (katanya) belajar menjadi dirigen yang baik di bawah bimbingan Bp. Paul Widyawan & Rm. Karl-Edmund Prier, SJ. Sangat menyenangkan menurutku karena di situ kami belajar tentang musik-musik inkulturasi, sebuah penyegaran tersendiri dari musik barat yang boleh dibilang membuatku agak bosan.

Rute yang kutempuh antara rute-rute berikut: Pringgokusuman-Jlagran-PasarKembang-Kotabaru, Pringgokusuman-Dagen-PasarKembang-Kotabaru, dan Pringgokusuman-Sosrowijayan-Malioboro-Kotabaru. Awalnya rute melalui Pasar Kembang tidaklah bermasalah hingga pada suatu hari secara tidak sengaja ada PSK yang menawari. Sejak saat itu aku ndak berani lagi lewat Pasar Kembang kecuali kalau siang.

Penataran ini cukup membuat aku dekat dengan dua sahabat karib Pak Paul dan Rm. Prier. Sehingga membuatku cukup mudah untuk berkonsultasi tentang kor dan musik inkulturasi. Selain itu suatu tambahan yang sangat berarti adalah kedekatan dengan kenalan-kenalan baru yang sama-sama belajar jadi dirigen.

Salah satu hari akhirnya berhasil aku gunakan untuk kopi darat dengan temanku bernama Gugun Arief di Gramedia Jl. Sudirman Jogja.

Setelah selesai hari-hari padat itu tibalah hari Minggu yang berarti telah selesailah pertempuran itu. Inilah dia saat ceritaku bisa kumulai. Minggu itu adalah kunjunganku ke Taman Sari. Memang banyak tersimpan rasa penasaran di mana kali terakhir aku ke sana Taman Sari masih belum direnovasi. Kali ini wajah Taman Sari sungguh berbeda luar biasa, menjadi sangat cantik.

Kepergianku kali ini ditemani oleh mbak Reni, seorang S2 di bidang pertanian yang juga punya ketertarikan akan budaya. Banyak hal yang mbak Reni ketahui tentang Taman Sari dari para guide lokal ternyata tidak sesuai dengan sejarah yang semestinya.

Oh ya, mengenai sejarah yang seharusnya, ketika tahun 2000 aku pernah jalan keliling Taman Sari bersama mbahku yang abdi dalem Kraton, mbah Jokomulyo. Mbah Joko memang menceritakan beberapa hal yang ternyata berbeda versi dengan guide yang ada. Sekadar catatan tambahan, mbah Joko sudah hidup dari sejak Taman Sari masih aktif! Maksudnya Taman Sari yang sesungguhnya, yang belum jadi perumahan seperti sekarang.

Sebagai contoh, tentang pemandian Taman Sari yang ada. Mbak Reni mengatakan kalau sisi yang tertutup itu adalah tempat mandi selir pilihan sultan di mana mereka mandi berduaan. Padahal kalau yang aku ingat dari cerita mbah Joko, sisi itu adalah sisi di mana para putri mandi (termasuk konon eyangku juga pernah mandi di situ). Sisi satunya tempat yang terbuka adalah tempat mandi para selir, padahal kalau seingatku versi mbah Joko itu adalah tempat mandi para putra dan anak-anak.

Contoh lain adalah satu hal yang (maaf) membuatku sempat tertawa di Sumur Gemuling - sebuah situs masjid di bawah air (dulunya). Aku mendengar dengan kepala sendiri seorang guide menerangkan tentang fungsi suatu ruang yaitu untuk menaruh bedug di situ. Ketika aku melihat ke dalam ruangan itu, ya ampun, itu kan menurut cerita mbah Joko adalah WC! Terlihat di situ ada peninggalan kakusnya dan bak mandinya.

Yang cukup mengenaskan di Taman Sari adalah Pulo Gedong (atau Pulo Cemeti ya? Agak lupa karena kali ini mbah Joko tidak diikutsertakan dalam tur). Temboknya meruntuhi rumah penduduk ketika gempa mengakibatkan beberapa korban jiwa dan pada akhirnya keluarga di rumah tsb pindah.

Ketika akhirnya aku bertemu mbah Joko, kami pun diajak ke Pesarean Dalem. Nah, di situ pula kami ditunjukkan kesalahan-kesalahan yang terjadi termasuk kesalahan terjemahan dari aksara Jawa ke Latin. Kami diajak ke dapurnya dan ke tempat Pesarean tsb. Menurut versi guide di situ adalah tempat semedi sultan. Padahal yang seharusnya adalah tempat tidur sultan. Begitu pula cara membaca angka tahun yang agak kurang benar.

Kunjungan ke Taman Sari ini pulalah yang membuat kami memikirkan sebuah ide kenapa tidak kita bukukan saja sejarah Taman Sari mumpung masih ada mbah Joko? Yah, besar harapanku aku bisa menyelesaikannya dan mungkin akan bisa kami mulai proyek ini September nanti.

Hal berikut setelah Taman Sari yang aku lakukan adalah pulang kembali ke rumah. Ketika aku masuk ke ruang tunggu Bandara Adisucipto aku sempat agak bingung akan keadaan yang tidak sama dengan keadaan zaman dahulu ketika di ruang tunggu bisa melihat pesawat-pesawat parkir. Ternyata ketika aku duduk agak lama baru aku sadar kalau tempat itu telah runtuh dan sekarang sedang direnovasi. Sebagai cara menutupi keruntuhan ini dipasanglah tembok kayu dengan lukisan-lukisan yang indah. Kreatif memang :)

Ketika sudah berada pada ketinggian mungkin sekitar 10,000 ft, akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk memfoto Gunung Merapi. Ketika berada di Jogja sebenarnya aku sudah mengincar untuk memotretnya tapi cuaca selalu mendung. Ternyata memang awannya menutupi bagian bawah puncak kawahnya sehingga kalau dari pesawat Gunung teraktif se-Indonesia ini baru terlihat.

Akhir perjalanan agak kurang mulus memang karena bus Damri ngetem hampir sejam di Bandara membuatku cukup teler malam itu. Namun bagaimanapun akhirnya aku bisa kembali ke rumah.

Jogja, I’m coming…

Tuesday, July 4th, 2006

Pulang ke kotamu…

makan bakso ateng di Jl. Sosrowijayan…

jalan2 di Jl. Malioboro…

neropong sama foto2 Merapi…

ketemu temen2 Kolega Lorosae…

ketemu guru2 ex Timor Timur…

kopi darat sama Pak Mutoha dari JAC (Jogja Astro Club)…

kopi darat sama Gugun Arief temennya Adex…

nengok Bantul…

nengok Candi Prambanan…

nengok Taman Sari…

beli bakpia…

apa lagi yah? kasih usulan donks?

Katedral Jakarta part 1: kesanku

Tuesday, July 4th, 2006

Katedral "St. Perawan Maria Diangkat ke Surga", ada yang tau? Yap, itulah dia Katedral Jakarta. Jumat minggu lalu (30 Jun) aku baru dari sana dengan satu misi: ke gedung Karya Pastoral lt.2 dan ngumpulin karya cipta lagu mars untuk 200 tahun Keuskupan Agung Jakarta ke mbak Rani (karena mbak Ika nggak ada), baru setelahnya jepret2 sebentar bagian luarnya, lalu berdoa.

Nah, perjumpaanku dengan gereja yg bangunannya diarsiteki oleh pastor Antonius Dijkmans, SJ lalu dilanjutkan Marius Hulswit ini dimulai pada tahun 1999. Perjumpaan pertama ini terjadi karena suatu organisasi bernama Persink (Persaudaraan siswa-siswi negeri Katolik) di mana aku mewakili Rokat (Rohani Katolik) SMUN 34 Jakarta Selatan.

Kesan pertamaku: wah, megah sekali gereja ini! Memang, bangunan berarsitektur neo-gothik-klasisisme ini memiliki penampakan yg tinggi dan megah, benar2 melambangkan apa yg ingin dicapainya: Tuhan di atas sana (walaupun sebenarnya aku tidak terlalu percaya kalau Tuhan itu di atas, yg aku percaya Tuhan itu menyatu dengan kita koq). Jangankan tingginya, detil2 yg nampak dgn balutan warna abu2 menjadikannya berkesan kokoh berdiri tegak di sana. Langit2 yg punya bentuk melengkung dgn keempat rusuknya menyatu membuat kesan persatuan dengan Tuhan yg satu. Bangku2nya yg dari kayu jati terpahat beratus tahun di sana menambah kesan klasik bangunan satu ini.

Apa yg membuatku terkesan tentang Katedral ini adalah karena di gereja inilah untuk pertama kalinya aku mendapatkan penghasilan karena jasaku. Secara tidak sengaja aku diminta memotret patung FX (patung yg ada di pilar paling dekat Tabernakel St. Yoseph, sebelah kanan depan gereja) untuk dipakai oleh FX Tour (ke manakah mereka sekarang ya?). Hal ini dimulai karena hobiku memfoto2 bangunan Katedral ini lalu ada seorang bernama mbak Heny yg minta tolong "mas, bisa minta tolong fotoin…". Apa yg menjadikanku bangga bukan hanya duitnya, tapi juga fotoku dipakai di kaos mereka.

Setelahnya, Katedral Jakarta juga menjadi tempat yg cukup berkesan karena tempat ini menjadi titik akhir perjalanan panjang ziarah Kamis Putih dari Wisma SY di Depok. Jalan kaki dari Wisma SY jam 11 malam dan berakhir di Katedral jam 7 pagi. Ingat ya, jalan kaki lho! Tapi untungnya rame2 sih… Aku melakukan hal ini sudah 2 kali, yaitu tahun 2002 & 2003.

Katedral Jakarta pula berkesan bagi temanku di Sahabat Museum bernama Luluk yg meskipun dia menggunakan jilbab (karena muslimah) dan awalnya ragu2 untuk masuk menikmati bangunan ini, akhirnya menjadi sangat bangga karena pernah masuk Katedral bahkan sampai museumnya yg di lt.2.

Hingga kini aku telah memotret bangunan ini berkali2 namun emang nggak ada habisnya bangunan ini digarap, selalu ada ide baru untuk motret. Ada yg mau ikut lagi nggak?

to be continued … Sejarah Katedral Jakarta